Sejuta Alasan Untuk Tetap Menulis

Sejuta Alasan Untuk Tetap Menulis

Sejuta Alasan Untuk Tetap Menulis

 Sering saya “iri” kepada para sahabat yang sudah menerbitkan buku

. Bukan hanya satu, tetapi puluhan bahkan hingga dua ratusan buku sudah diterbitkan. Apa sebenarnya yang membedakan? Kok saya belum menerbitkan buku satu pun. Padahal dulu sama-sama sekolah. Sama-sama belajar di SD, SLTP, SLTA, S1 hingga S2. Semua kita mengenyam pendidikan bukan?

Setelah saya renungkan, ternyata yang membedakan itu ternyata hasrat untuk menulis. Penulis produktif, tiada hari tanpa merangkai kata hingga kalimat bermakna. Orang yang enggan menulis, pasti mempunyai dalih “sejuta alasan untuk tidak menulis”. Bahkan sahabat saya sering menyatakan, untuk apa sih menulis? Kita kan bukan anak sekolah, juga bukan mahasiswa, bukan ilmuan, bukan juga wartawan, “ngapain” menulis. Pernyataan seperti ini terkadang membuat tidak semangat untuk menulis. Bahkan bisa jadi, bisa mengcut_ hasrat menulis. Lebih tragis lagi “merampas ” kreativitas untuk berkarya. Bagi saya, fenomena ini sangat menarik. Idealnya harus dijadikan tantangan untuk lebih maju lagi.

Banyak problematika dalam dunia kepenulisan. Bagi saya

, menulis itu suatu peluang untuk beribadah. Sharing kepada sahabat hasil refleksi, observasi ataupun ilmu dan pengalaman berharga yang dimiliki meskipun hanya secuil. Harapannya bisa membangkitkan inspirasi untuk diri dan lingkungan. Bukankah insan terbaik itu paling bermanfaat untuk orang lain? Demikian pesan Rasulullah SAW.

Dengan saling berbagi ilmu, maka ilmu itu akan bertambah. Bahkan akan mengurai feedback_bagi orang lain untuk menggali ilmu yang hampir sama temanya seperti yang kita tulis. Indah bukan? Maka peradaban dan khazanah keilmuan terus berkembang. Bukankah ilmu itu, apabila digali kian dalam? Bahkan seorang ilmuan atapun Profesor mana pun selalu berkata “seakan belum memiliki apa-apa dalam benaknya”. Di atas langit ada langit. Maka lahirlah laksana ilmu padi. Kian berisi kian merunduk. Itulah pecinta ilmu, selalu merasa tidak puas dengan semua ilmu yang dimiliki.

Di sisi lain, seseorang yang hasrat menulisnya melangit selalu berprinsip, bahwa menulis itu berbicara untuk keabadian dalam berkarya. Mengapa? Karena semua yang ditulis saat ini tidak lekang oleh waktu dan tidak tergilas oleh zaman. Karya besar yang ditorehkan Empat Imam Mazhab tetap mengabadi hingga detik ini.

Hal lain, dengan menulis selalu terpancing untuk membaca dan membaca.

Sulit rasanya apabila menulis tidak diawali dengan membaca. Saat saya bincang-bincang dengan guru binaan, mayoritas mereka rajin membaca. Baik kaitan dengan buku bacaan mapel yang diampu, maupun bacaan lainnya. Tetapi disaat saya tawarkan untuk menulis, mereka menjawab tidak ada waktu untuk menulis. Bahkan ada yang mengatakan, bingung materi apa yang harus ditulis. Itulah beberapa fenomena kepenulisan. Baru “beriman” untuk membaca, tetapi belum “beriman” untuk menulis.

 

Baca Juga :