Pendidikan Holistik Berbasis Karakter

Pendidikan Holistik Berbasis Karakter

Pendidikan Holistik Berbasis Karakter

Pembelajaran berbasis karakter adalah salah satu solusi untuk memperbaiki permasalahan moral

serta menanamkan perilaku terpuji pada setiap peserta didik. Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK), Fakultas Ekologi Manusia (Fema) Institut Pertanian Bogor (IPB) menggelar pelatihan khusus bagi tenaga pendidik Sekolah Cendekia Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) yang bertajuk ‘Merancang Pendidikan Holistik Berbasis Karakter’ di Kampus IPB Dramaga.

Narasumber dalam pelatihan ini adalah staf pengajar di Divisi Perkembangan Anak, Departemen IKK IPB

dan Kepala Sekolah Labschool Pendidikan Karakter IPB-ISFA, Rety Puspitasari, M.Si.

Sekretaris Departemen IKK IPB, Alfiasari SP, M.Si, menyampaikan bahwa tujuan dari pelatihan ini adalah untuk memberikan sumbangsih nyata Departemen IKK dalam pengembangan pendidikan yang lebih ramah bagi anak dan mengembangkan karakter anak bangsa.

“Pelatihan ini dikhususkan untuk membantu Sekolah Cendekia Baznas dalam melahirkan peserta didik yang memiliki perilaku mulia. Sehingga pelatihan yang kita angkat adalah bagaimana mengembangkan konsep pembelajaran yang berbasis karakter,” ujar Alfiasari.

Ia menjelaskan, bahwa selama tiga hari peserta diperkenalkan tentang konsep umum pendidikan,

kecerdasan majemuk, dan brain based learning.Hari kedua peserta dipaparkan model-model pembelajaran konstruktif dan cara mensinergikan kurikulum 2013 dengan pendidikan karakter.

Pada hari terakhir, para pendidik dilatih mempraktekkan cara merancang kurikulum yang sinergis dengan pendidikan karakter.

“Setiap anak didik adalah unik dan harus dihormati keunikannya. Sehingga guru harus mengenali aspek-aspek kecerdasan setiap siswa dan memfasilitasi proses belajar yang sesuai dengan minat dan aspek kecerdasan siswa,” bebernya.

Selain itu, sambung dia, apabila anak senang dan bahagia dengan belajar maka anak-anak akan mengaktifkan seluruh sel-sel otaknya untuk belajar. Sehingga guru dapat mengkombinasikan metode belajar otak kanan dan otak kiri.

“Harapannya peserta yang hadir sudah dapat merancang kurikulum pendidikan berbasis karakter yang telah disinergikan dengan bidang kompetensinya masing-masing,” tukasnya.

 

Baca Juga :