Berbicara dengan Hati, Bukan Jari

Berbicara dengan Hati, Bukan Jari

Berbicara dengan Hati, Bukan Jari

ADIL jengkel betul dengan istrinya. Sepanjang liburan akhir pekan keduanya
sepakat memilih beristirahat di rumah. Lima hari bekerja membuat mereka ingin
melemaskan otot-otot. Sekaligus tentu saja mempererat tali cinta diantara mereka
berdua. Maklum, mereka belum lagi genap dua tahun menikah. Buah hati yang
menjadi dambaan mereka tak kunjung datang. Mungkin Yang Di Atas belum memberikan
mereka kepercayaan. Begitu keduanya menghibur diri.

Tapi akhir pekan yang seharusnya indah justeru berubah menyebalkan. Seharian
Anita, sang istri, hanya berada di kamar. Mungkin saja letih. Dia ingin
istirahat penuh. Namun yang membuatnya jengkel, Anita terus menggenggam gadget
kesayangannya. Anita kadang tertawa sendiri. Sampai kadang dia tak ingin jauh
dari colokan listriknya. Gadget kesayangannya itu sering kehilangan tenaga,
sehingga terpaksa harus dicharge.

Adil geleng-geleng kepala. Namun Anita cuek bebek. Katanya, dia sedang asyik
mengobrol dengan teman yang lama tak dijumpainya. Bertemu di jejaring sosial
facebook, mereka kemudian bertukar nomor PIN. Lalu itulah yang terjadi, mereka
mengobrol ngalor-ngidul sesuka hati. Adil pun memilih untuk keluar rumah dan
mengobrol dengan tetangga.

Ponsel cerdas itu menjadi booming di dunia, termasuk Indonesia. Apalagi setelah
beberapa tokoh dunia dan seleb memakainya juga. Kelebihan menggunakan gadget ini
dibandingkan dengan ponsel biasa memang beragam, Kedekatan seseorang di dunia maya seakan-akan tidak lagi terpisahkan oleh ruang dan waktu. Tak aneh bila kemudian muncul istilah,
‘mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat.’

Namun memakai gadget ini bukan tak ada kekurangannya sama sekali. Contohnya, ya
itu, interaksi antara Adil dan Anita menjadi tak nyaman. Ketika seseorang
berasyik masyuk dengan dirinya dan dunianya sendiri, serta tidak memperdulikan
lingkungan sekitar, apalagi menjadikannya sebagai ketergantungan yang sangat,

Tapi nyatanya memang, menurut penelitian, ketergantungan akan gadget menyebabkan
seseorang menjadi tak fokus. Bahkan para uskup senior di Liverpool, Inggris
menantang umatnya untuk berpuasa teknologi selama 40 hari. Mereka mendorong
masing-masing orang untuk memangkas penggunaan karbon dengan tidak memakai
sejumlah gadget.

Gadget dibuat dengan tujuan membantu si pemakainya. Untuk menjadikan urusan
berjalan dengan efektif dan efisien. Ambil satu contoh, misalnya saja ketika
diadakan rapat penting. Saat dalam rapat membutuhkan komunikasi rahasia di
antara peserta rapat, tentu saja cara yang cerdas dengan menggunakan gadget yang
tersedia.

Tetapi pada kenyataannya, yang kerap kita jumpai, teknologi yang awalnya
dirancang untuk membantu kehidupan manusia, malah justeru membuat kita semakin
menjauh satu dengan lainnya. Menjauh dari orang-orang yang kita kasihi, dan
menjauh pula dari Tuhan yang sesungguhnya dekat dengan kita.

Dengarlah apa yang dikatakan Eric Schmidt, CEO Google, dalam pidatonya di
University of Pennsylvania, Amerika Serikat, pada 18 Mei 2009 lalu dihadapan
enam ribu wisudawan. Schmidt berujar, “Matikan komputermu. Matikan juga
ponselmu. Dan perhatikan manusia di sekelilingmu.” Schmidt mengatakan demikian
setelah melihat banyaknya kaum muda yang hanya terpaku pada dunia virtual di
internet. Seakan tak peduli untuk berelasi dengan orang lain.

Itulah yang dirasakan Adil sekarang. Ia merasa jauh sekali dari istrinya. Adil
sesungguhnya tak menuntut lebih dari Anita. Adil hanya ingin Anita menghentikan
sekali saja pada saat mereka berada di rumah. Apalagi disaat-saat mereka sedang
berdua atau liburan. Baginya komunikasi yang baik bukan lagi semata dengan
jari-jari, walau teknologi sudah maju. Berbicara dengan tatap muka, ekspresi
wajah, dan bahasa tubuh tentu lebih memanusiakan diri.

Kita seharusnya memang dapat berhenti sejenak dari kegaduhan dunia virtual dan
kembali pada ‘habitatnya’ sebagai makhluk sosial.

Sumber : https://icanhasmotivation.com/